Skema Tranfusi Darah

skema tranfusi darah
Loading...

Apa itu transfusi darah ?

Transfusi daraha adalah suatu proses memasukan darah yang di donorkan oleh orang lain yang sehat. transfusi darah dapat berupa darah merah, trombosit ataupun plasma. Darah yang di transfusikan  disimpan dalam kantong khusus darah dan di berikan melalui selang infus khusus untuk transfusi darah.

Skema Tranfusi Darah

lama proses transfusi darah  tergantung dari jenis darah yang di transfusikan dan kondisi dari pasien. untuk satu kantong darah merah di transfusikan dalam waktu 2 sampai 4 jam, satu dosis trombosit di transfusikan dalam waktu 15 menit.

Mengapa pasien memerlukan transfusi darah ?

Transfusi darah bertujuan untuk mengganti darah yang hilang ataupun melakukan koreksi terhadap hasil dari dari pemeriksaan laboratorium, yang tidak bisa menggunakan jalan lain.

Alasan yang sering untuk melakukan transfusi darah antara lain :

  1. Pendarahan hebat akibat operasi atau kecelakaan.
  2. Kelainan darah.
  3. Terapi tambahan untuk memenuhi syarat terapi utama seperti kemoterapi, operasi atau radiasi.

Dokter yang merawat akan memberitahukan alasan yang diperlukan agar dilakukan transfusi darah. anda dan dokter dapat berdiskusi untuk memutuskan dilakukan transfusi darah atau tidak tetapi ada kemungkinan tidak ada pilihan lain dan menolak transfusi darah karena dapat mengakibatkan sesuatu yang berbahaya.

Apakah darah yang akan di transfusikan aman ?

Sebelum donor menyumbangkan darah, semua orang yang menyumbangkan darah (donor darah) harus menjawab kuisioner untuk menentukan kesehatan donor dan jauh dari faktor resiko berbagai penyait yang dapat menular melalui transfusi darah. Donor yang memiliki faktor resiko akan di tolak, semua donor akan diperiksa darahnya terhadap infeksi penyakit menular lewat transfusi seperti Hepatitis B, Hepatitis C, HIV dan Sifilis.

Baca Juga >>>  Manfaat Buah Stroberi Yang Menakjubkan Dan Tidak Boleh Dilewatkan

Walaupun sudah dilakukan pemeriksaan secara ketat, namun masih ada kemungkinan pasien tertular infeksi melalui transfusi darah karena terdapat masa jeda dimana infeksi tidak dapat terdeteksi secara laboratorium. tetapi ini kemungkinannya sangat kecil sekali, data dari WHO sendiri menunjukan bahwa :

  • HIV kemungkinannya 1 dari 4 juta kantong darah yang di transfusikan.
  • Hepatitis C kemungkinannya 1 dari 4 juta kantong darah yang di transfusikan.
  • Hepatitis B kemungkinannya 1 dari 250 ribu kantong darah yang di transfusikan.

Bagaimana Skema Transfusi Darah untuk mencocokan darah yang akan di transfusikan :

Darah yang akan di transfusikan akan di carikan yang paling cocok di laboratorium bank darah, Darah di cocokan berdasarkan golongan ABO dan Rhesus, karena kedua golongan darah ini paling penting dalam proses transfusi darah. Tetapi darah tidak dapat dicarikan yang benar-benar cocok secara sempurna sehingga dapat menimbulkan reaksi transfusi, Pada pasien yang sering melakukan transfusi akan sering  timbul antibodi. Antibodi ini tidak akan membuat pasien menderita penyakit, akan tetapi akan menyebabkan proses mencari darah yang paling cocok akan bertambah lama.

proses pembekuan darah
proses pembekuan darah

Perawat akan menanyakan nama, tanggal lahir, dan golongan darah pasien ketika akan mengambil sampel darah dan sewaktu akan melakukan skema transfusi darah.

Apa resiko dari transfusi darah ?

Pasien dapat mengalami reaksi transfusi, reaksi transfusi ini bersifat ringan dan berat. Resiko yang ringan yaitu seperti demam, menggigil, gatal-gatal, benjol-benjol selama proses transfusi dilakukan sampai dengan selesai. sedangkan untuk resiko berat dapat berupa sesak nafas, dan alergi yang bersifat berat.

Selama proses transfusi darah dilakukan biasanya perawat akan melakukan observasi di awal-awal saat proses dimulai. sebainya pasien memberitahukan kepada perawat jika ada hal janggal yang di rasakan tubuh saat proses transfusi, proses transfusi akan di lakukan kembali atas saran dari dokter.

Baca Juga >>>  Manfaat Menakjubkan Dari Mengkonsumsi Kurma

Apakah darah yang di transfusikan dapat berasal dari keluarga atau teman ?

Menurut penelitian, darah yang berasal dari teman atau keluarga tidaklah lebih aman dari darah yang di sediakan oleh Palang Merah Indonesia (PMI). Donor darah dari keluarga atau teman dibutuhkan hanya pada saat persediaan darah di PMI sedang kosong. dan khusus untuk trombosit apheresis, akan di minta dari teman atau keluarga agar dapat terjamin ketersediannya. sehingga pasien dapat cepat di tangani.

Hasil Pencarian Lainnya:

About ivink3aray

Hobi explore hal baru, dan suka menulis tentang kesehatan di sekitar kita

View all posts by ivink3aray →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *